Kamis, 27 November 2014

HOST INSERT MEMAKAI BUSANA SUMBA PADA INSERT AWARDS 2014

Kekayaan Tenun ikat dari pulau Sumba, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berjaya dalam acara yang disiarkan secara langsung Rabu 27 November 2014 malam. Award yang sekaligus merayaan ulang tahun ke-11 program Insert Trans TV ini mengambil tema 'Iconic'. Menariknya Para host Insert, seperti Indra Herlambang,Fenita Arie, Astrid Tiar, Ananda Omesh, Addry Danuatmadja tampil memukau dengan balutan busana tenunan Sumba yang dimodifikasi. Tidak hanya para host, Anjasmara saat menerima penghargaan Celebrity With Healty Lifestyle tampil dengan menggunakan jas modifikasi tenun ikat Sumba. Kain tenun Sumba memang mempunyai keunikan sendiri, mulai dari proses persiapan bahannya, kain sumba menggunakan bahan-bahan alami, untuk pewarnaan kain tenun sumba menggunakan berbagai daun dan akar-akaran, karena dengan warna alami ini kain tenun sumba warnanya semakin lama semakin bagus tidak pudar. Pembuatan kain tenun sumba ini diwarisi secara turun-menurun dari nenek moyang. Kain tenunan sumba yang di gunakan di acara insert award trans TV didominasi oleh tenunan dengan pewarna alami. Tenun Sumba juga berlanjut di program live berikut Trans TV late night show. Karena jadwal siaran yang berdekatan dengan program sebelumnya dan tema masih seputar HUT Insert, busana yang sama digunakan lagi di program tersebut oleh para host dan bintang tamu.
 


 
DENNY WIRAWAN MENAMPILKAN 12 RANCANGAN BERTEMA KAIN SUMBA DI BELANDA
 
Dua desainer kenamaan Indonesia Denny Wirawan dan Tuty Cholid menggelar fashion show Persembahan Anak Negeri pada Resepsi Diplomatik di The Kurzaal, Steigenberger Kurhaus Hotel Den Haag, Rabu, 20 Agustus 2014. Pada acara bertajuk The Pride of the Indonesian Heritage itu, Denny Wirawan menampilkan 12 rancangan busana yang bertema Tenun Sumba dan Tuty Cholid menampilkan koleksi busana bertema Batik dan Jumputan yang memesona publik di Belanda. Dalam fashion show tersebut, Denny Wirawan memilih untuk menampilkan Tenun Sumba, karena mengaku jatuh cinta terhadap kain yang punya banyak nilai filosofi tersebut, saat sedang membina perajin kain di Sumba. Denny mengatakan, seni kerajinan kain Tenun Sumba adalah karya kain warisan nenek moyang yang memiliki nilai filosofi tinggi. Kain ini dipakai dalam berbagai upacara adat, kelahiran, kematian, dan pasola (balap kuda).
Dengan persiapan yang terbilang singkat, yakni 2 bulan, Denny mampu menyiapkan konsep busana siap pakai, deluxe, wearable serta mix & match. Tak lupa, agar tidak terlalu terkesan tradisional, Denny “menyulap” Tenun Sumba yang kaya warna hitam, merah, dan kuning menjadi koleksi coat, jaket, sampai gaun malam, dengan tambahan payet serta batu untuk menambah kesan klasik glamour. Tuty Cholid mengusung tema batik dan jumputan dalam karyanya. Tuty memilih motif batik bunga-bunga kecil, karena diyakini lebih mudah masuk untuk pasar Eropa yang terkenal menyukai motif simpel dan minimalis.
"Saya menampilkan Tenun Sumba dalam koleksi jaket, coat, dan bolero. Saya begitu jatuh hati dengan tenun khas Sumba dan saat ini sedang membina perajin di sana. Mereka adalah para perajin Sumba Mitra Binaan BNI,
"Konsepnya 'La Mer et du Soleil', di sini saya kagum sekali pada keindahan alam Sumba, keadaan geografisnya dan pemandangan mulai dari laut biru hingga matahari terbenam di sana. Oleh karena itu saya menggarap tenun Sumba yang memang sudah terkenal. Ini juga dalam rangka kerjasama saya dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) untuk mengembangkan tenun ikat Sumba” Terang Denny.
 
 






BUSANA MOTIF KAIN SUMBA PADA JAKARTA FASHION WEEK 2015
 
Itang Yunasz atau bernama lengkap Yusjirwan Yunasz (lahir di Jakarta, 31 Desember 1958; umur 55 tahun) adalah perancang busana terkenal asal Indonesia. Memulai karier pada tahun 1981, setelah meraih juara kedua dalam Lomba Perancang Mode Femina. Itang pernah mendapat penghargaan dari Presiden Fidel Ramos bertajuk Asian Women Foundation. Berbeda dari show Itang Yunasz sebelumnya, kali ini Itang Yunasz merepresentasikan koleksi busana muslim terbarunya yang bermotif kain sumba lewat show tunggal untuk pertama kalinya di ajang Jakarta Fashion Week 2015 di Senayan City dengan tema Exotic Journey pada senin 2 November 2014, perancang yang telah bergelut di ranah mode selama 30 tahun ini mengeluarkan 60 busana yang ditampilkan untuk busana muslimiah dengan memakai kain sumba sebagai bahan pembuatan busana . Inspirasi dari perjalanan ke tanah Indonesia belahan Timur yang eksotik menjadi tema untuk koleksinya, pulau Sumba dengan guratan tenun ikatnya yang khas cukup menarik untuk diangkat ke dunia internasional. Guratan tenun dan ornamen sumba ditampilkan lewat siluet bertumpuk pada jaket panjang, blus tunik, gamis dengan aksen ruffles, pleated skirt dan celana yang mendominasi.






















Selasa, 25 November 2014

BERI DAKU SUMBA (PUISI TAUFIQ ISMAIL)
 
Taufiq Ismail adalah seorang sastrawan senior Indonesia yang dilahirkan di Bukittinggi dan dibesarkan di Pekalongan, ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.
Taufiq Ismail mengungkapkan rahasia di balik karyanya yang berjudul "Beri Daku Sumba".
Puisi yang menggambarkan indahnya wilayah Sumba itu ternyata dibuat sang maestro pada 1970 tanpa pernah berkunjung ke sana sebelumnya. Dia membuatnya berdasarkan cerita teman dan visualisasi pemandangan Uzbekistan. Berawal tahun 68 dari pergaulan saya dengan Umbu Landu Paranggi yang berasal dari Sumba... Dia berkali-kali bercerita tentang Sumba. Taufiq pun menjadi sangat tertarik pada Sumba dan ingin sekali ke sana. Sayangnya, itu tidak kunjung terwujud, dia justru mengunjungi Uzbekistan. Di negara pecahan Uni Soviet tersebut, Taufiq menemukan gambaran keindahan. Kuda-kuda, tanah luas, dan juga pantai, persis seperti Sumba yang ada dalam bayangannya selama ini. Dari situlah dia terinspirasi membuat puisi "Beri Daku Sumba", sebagai perlambang harapan bisa segera mengunjungi pulau di Nusa Tenggara Timur itu. Taufiq akhirnya menginjakkan kakinya di Sumba sekitar 20 tahun setelah puisinya dibuat. Itu adalah satu-satunya pengalaman baginya berkunjung ke sana.


BERI DAKU SUMBA
Oleh Taufik Ismail


Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu
Aneh, aku jadi ingat pada Umbu

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut
Dan angin zat asam panas dikipas dari sana

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
KAMI SUMBA BUKAN SUMBAWA

keasikan nonton Net Entertainment news, presenter acara ini menyebutkan tentang film layar lebar kolosal Indonesia "PENDEKAR TONGKAT EMAS" yang mengambil lokasi shooting di Sumbawa. jujur saja berita ini menyakitkan hati... bukan karena film layar lebarnya tapi lebih ke penyebutan lokasi shooting film tersebut yang sebenarnya berada di pulau sumba bukan di sumbawa....ada aja yang bikin panas telinga orang sumba, saya rasa presenter ini pada saat sekolah tidak belajar geografi makanya tidak bisa membedakan mana sumba dan mana sumbawa. pulau sumba itu besar bos dengan luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 m). sebagai orang Sumba jelas ini merugikan buat kami, ini mengingatkan pada saat masi merantau dulu...kalau di tanya sama orang jawa "mas kamu orang mana"??, orang sumba mas,... oooo sumbawa ya??? tidak sumba mas..pulau sumba...NTT, ooo sumba itukan sumbawa ya mas?? tidak mas, sumba itu pulau sendiri di Nusa tenggara timur... oo tak kiraiin sama mas...!! (pengen tabok ni orang...hehehehe)...jelas sangat kecewa...masi banyak orang yang belum bisa membedakan antara pulau sumba dan sumbawa...saya kira selama ini masyarakat biasa saja yang tidak bisa membedakan, ehh ternyata seorang presenter dengan segudang wawasan juga tidak bisa membedakan pulau ini dan ini bukan hanya sekali ada beberapa pembawa berita juga yang tidak bisa membedakan pulau sumba dan sumbawa, pada dasarnya kedua pulau ini terletak di propinsi yang berbeda...sumba berada di NTT dan sumbawa berda di NTB...kita sesema orang indonesia masi susah membedakan sumba dan sumbawa, sedangkan turis-turis manca negara yang pernah datang ke sumba sangat mengagumi daerah ini....

tapi syukurlah ada juga pernyatann yang bikin orang sumba bisa berbangga, tengok saja komentar dari Nicholas Saputra, Celia Latjuba, dan Tara Basro.

Nicholas Saputra "Aku seneng banget bisa berada di Sumba untuk mengikuti sebuah produksi film. Lokasinya sangat membantu kita sebagai pemain film untuk merasakan, untuk membuat dunia yang beda, yang mungkin kalau tempatnya tidak jauh dari tempat kita biasa hidup agak sulit dapetnya. Contohnya seperti di salah satu set kita di deket mata air ada sungai itu ada kampung ceritanya di mana Elang tinggal. Suasana kampungnya, orang-orangnya, alamnya, rumah-rumahnya, membantu kita untuk berimajinasi untuk fit emotion sama suasana," ujar Nicholas panjang lebar dalam sebuah video Behind the Scene.

Tak cuma Nicholas, si cantik Eva Celia juga merasakan hal serupa. Bahkan putri dari Sophia Latjuba itu mengaku dirinya sudah merasa di rumah dan enggan tuk pulang ke Ibukota."Rasanya aku telah belajar banyak dari budaya di sini, dari mereka yang tinggal di sini (Sumba). Mereka yang di rumah selalu bilang, 'Ayo dong pulang, pulang', tapi aku merasa di sini sudah seperti rumahku sekarang," jelas Eva.

Taras Basro sampe-sampe tidak mau pulang ke Jakarta
Tara Basro menyatakan alasannya “berontak” tidak mau pulang, yakni masih ingin menikmati pemandangan alam Pulau Sumba. Justru kami enggak mau pulang dari Sumba. Kami justru cinta banget sama Sumba, biasanya, waktu break syuting kami gunakan untuk jalan-jalan. Misalnya naik kuda di padang rumput atau berenang di laut dan menikmati air terjun.Pokoknya bikin ketagihan. Mau banget balik lagi ke sana.

Foto Celia Latjuba di sumba














Rabu, 12 November 2014

KAIN SUMBA MEMPESONA DUNIA


Tidak sekadar indah, selembar kain tenun Sumba juga penuh makna. Relasi masyarakat dengan kain tenun Sumba dalam kehidupan mereka diawali saat kelahiran, disusul pernikahan, hingga akhirnya kematian. Sayang, keindahan kain Sumba justru lebih banyak dikagumi orang asing.

Sumba kain atau berarti juga kain Sumba merujuk pada hinggi, yaitu busana adat lelaki Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hinggi berbentuk lembaran empat persegi panjang dengan ukuran sisi terpanjang sekitar 250 sentimeter dan sisi terpendek 80-150 sentimeter.

Di Sumba Timur, sentra kain Sumba terdapat di sejumlah pesisir utara dan timur laut, yaitu di Kanatang, Kambera, Rindi, Umalulu, dan Mangili. Sementara di Sumba Barat, sentra kain Sumba, antara lain, terdapat di Kodi, yang tepatnya berada di Sumba bagian barat daya.

Apabila dahulu kain Sumba hanya dikerjakan kaum perempuan, saat ini banyak pula kaum lelaki yang terlibat dalam pembuatan kain Sumba.

Hal ini karena manfaat ekonomi dari kain Sumba yang semakin menguat. Pembuatan kain Sumba tidak sekadar menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Sumba, tetapi telah menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat di daerah tersebut.

Namun, seperti halnya persoalan di banyak tempat di Tanah Air, tidak banyak anak muda yang tertarik belajar membuat kain Sumba. Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk membuat kain Sumba sulit dipenuhi anak-anak muda yang pada masa kini memiliki banyak tuntutan dalam hidup. Salah satunya adalah tuntutan untuk bersekolah.

Perajin kain Sumba dari Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, Rambu Margaretha, mengatakan, saat ini pembuatan kain Sumba lebih banyak dilakukan orang dewasa. Saat ini bahkan banyak orang tua berusia di atas 70 tahun yang meneruskan tradisi menenun kain di Sumba.

”Orang-orang tua itu membuat kain Sumba tanpa perlu menggambar atau membuat sketsanya lebih dulu. Motif atau coraknya langsung dibuat pada saat menenun dengan cara diikat. Sekarang banyak yang tidak bisa seperti itu. Motif atau corak kain harus digambar lebih dahulu di atas kain, baru kemudian diikat,” tutur Rambu.

Proses pembuatan kain Sumba, dikatakan Rambu, memakan waktu cukup lama, tergantung dari kerumitan motifnya. Salah satu kain Sumba yang memiliki tingkat kesulitan tinggi adalah kain Sumba yang motifnya mirip kain patola dari India. ”Terlalu banyak yang diikat,” kata Rambu.

Harga kain Sumba juga dibedakan menurut jenis pewarna yang digunakan. Untuk kain Sumba yang menggunakan pewarna sintetis, dikerjakan selama 5-6 bulan, harganya Rp 500.000-Rp 1 juta. Sementara kain Sumba yang menggunakan pewarna alami, dikerjakan selama 8 bulan-2 tahun, harganya jauh lebih mahal dari kain Sumba dengan pewarna sintetis.

Dari tumbuhan
Umumnya, bahan pewarna alami diperolah dari tumbuhan yang ada di Sumba. Zat pewarna biru (kawaru) dibuat dari daun woru atau nila atau tarum (Indigo tinctoria). Adapun zat pewarna merah diperoleh dari akar kombu atau pohon mengkudu (Morinda citrifolia). Zat pewarna hitam diperoleh dari penggunaan lumpur.
Proses pembuatan kain Sumba melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan corak, pewarnaan, kemudian menenun.
Menurut Rambu, pewarnaan dilakukan rata-rata 3-4 kali dan maksimal 6 kali.
Corak kain Sumba dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni kelompok figuratif yang merupakan representasi dari bentuk manusia dan binatang, kelompok skematis (menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris), serta kelompok bentuk pengaruh asing seperti salib, corak patola (India), dan naga (China).
 
Upacara adat
Selain dikenakan dalam kegiatan sehari-hari, kain Sumba juga menjadi bagian dalam berbagai upacara adat.
Umbu Charma, perajin kain Sumba dari Rende, Sumba Timur, mengatakan, kain Sumba digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pemakaman.
Dalam upacara pemakaman merapu, kain Sumba digunakan untuk membungkus jenazah. ”Untuk bangsawan, kain yang dibutuhkan sekitar 100 lembar, sedangkan untuk warga biasa, kain yang dibutuhkan 10-15 lembar,” kata Umbu.

Memesona dunia
Meski tak banyak generasi muda yang tertarik melestarikan kain Sumba, di antara daerah penghasil tenun ikat lungsi di Tanah Air, tenun ikat Sumba merupakan yang paling menarik perhatian dunia. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya kain Sumba yang menjadi koleksi sejumlah museum dan kolektor di luar negeri.

 

Tenun khas Sumba, Nusa Tenggara Timur. Salah satunya seperti yang terdapat di Museum Basel, Swiss. Kepala Museum Tekstil, Jakarta, Indra Riawan dalam pembukaan pameran wastra Sumba beberapa waktu lalu mengatakan, Museum Basel memiliki koleksi 5.000 lembar kain tradisional Indonesia dan 2.000 di antaranya merupakan kain Sumba. Kain tenun Sumba, tambah Indra, juga banyak dimiliki sejumlah kolektor dan museum di Belanda, Australia, serta Amerika Serikat.

Pemerhati kain, Judi Achmadi, memaparkan, kain Sumba mulai menarik perhatian masyarakat Eropa pada akhir abad ke-19. Mereka sangat tertarik dengan kain Sumba karena memiliki ragam hias dengan desain yang tegas, kaya warna, dan mudah dikenali.

Masyarakat Eropa yang terpesona kemudian membawa kain Sumba untuk dijadikan hiasan yang digantung di dinding rumah, diselempangkan di tempat tidur, dan dibentangkan di atas meja atau tempat tidur. Beberapa di antaranya kemudian juga menjadi koleksi museum. Sampai kapan keindahan kain Sumba hanya dikagumi masyarakat bangsa lain?



http://travel.kompas.com/read/2013/10/27/1219020/Kain.Sumba.Memesona.Dunia

INDONESIA EKSPOR 12 EKOR KUDA SUMBA KE MALAYSIA

Sebanyak 12 ekor kuda di ekspor Indonesia ke Negeri Jiran Malaysia pada tahun ini. Belasan kuda yang di ekspor dalam tahap pertama tersebut merupakan hasil terna Yayasan Pamulang Equestrian Centre, Pamulang, Tangerang Selatan.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Nuz Nuzulia Ishak menuturkan ekspor binatang hidup tersebut mendorong peningkatan nilai ekspor produk binatang hidup sekaligus berkontribusi terhadap nilai ekspor non migas Indonesia.
"Ini juga salah satu upaya diversifikasi produk ekspor untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015," ujar Nuz saat peresmian ekspor kuda di Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (25/7).
Pemilik Yayasan Pamulang Equestrian Center Oetari Soehardjono menjelaskan 12 kuda yang di ekspor tersebut merupakan kuda asli Indonesia yang berasal daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan jenis kuda sandel.
Belasan kuda tersebut diperuntukkan keperluan rekreasi di Taman Tasik Titiwangsa, Kuala Lumpur. Kelebihan dari kuda Sumba tersebut, ada pada postur, kaki yang kering sehingga lebih kuat, kukunya tanpa tapal yang tidak terpengaruh cuaca apapun.
"12 kuda ini merupakan hasil seleksi dari 80 kuda sehingga bisa memenuhi kriteria yang diminta oleh pihak Malaysia, salah satunya bebas dari penyakit. Ini dari peternak rakyat yang ditunjuk pemerintah Malaysia melalui Dewan Bandaraya (Pemerintah Daerah) Kuala Lumpur. Seleksi awalnya di Pasuruan, kemudian dilatih di sini. Asalnya kuda liar."
Nilai ekspor belasan kuda tersebut, lanjut Oetari, dibandrol sebesar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per ekor. "Sedangkan ongkos kirimnya sekitar Rp 30 juta per ekornya," katanya.

http://www.merdeka.com/uang/indonesia-ekspor-12-ekor-kuda-sumba-ke-malaysia.html